Akademisi USU Minta Presiden Pimpin “Perang” Melawan Hoax Agar Pemilu Berjalan Baik dan Jurdil -->

Akademisi USU Minta Presiden Pimpin “Perang” Melawan Hoax Agar Pemilu Berjalan Baik dan Jurdil

04 Maret 2019, 04 Maret



MEDAN
Akademisi USU Roy Fachraby Ginting SH MKn menyatakan negara di bawah komando Presiden Joko Widodo perlu segera memimpin “perang” melawan Hoax terkait pemberitaan yang penuh kebohongan dan fitnah yang beredar akhir-akhir ini.
Hal ini dapat menceredai hasil Pemilu dan berpotensi memecah belah masyarakat. Perang malawan hoax akan tercipta atmosfir positif di sosial media, kata Roy di Medan, Senin (4/3).
Roy mengatakan, seluruh komponen bangsa harus terlibat penuh dalam memerangi hoax dan konten yang membuat informasi negatif, sehingga seluruh komponen bangsa harus bijak dalam mencerna dan menyebar informasi.
" Sejak awal, sebelum Pemilu, kita harus bertarung dengan hoax, kabar bohong. Kita harus mulai membangun budaya baru, membangun nilai kesopanan, kesantunan dalam kita berucap, dalam ujaran-ujaran yang sopan dan santun di media sosial." kata Roy Fachraby.
Dikatakan Ginting, membangun sebuah nilai-nilai kesopanan, nilai-nilai kesantunan dalam kita berucap, dalam kita menyampaikan ujaran-ujaran di media sosial. Jangan menghasut, jangan memfitnah, jangan menyebarkan kabar bohong, jangan menyebarkan ujaran kebencian. Hal itu harus terus disampaikan dan disosialisasikan kepada masyarakat di mana-mana. Saat ini, kita berhadapan dengan masalah keterbukaan dan semua negara juga menghadapi. Semua itu harus kita hadapi dengan membangun sebuah optimisme, bekerja itu selalu mendorong masyarakat untuk bergerak lebih optimis.
Roy melihat bahwa Presiden sejak akhir tahun lalu, memang mulai serius memerangi arus kabar bohong di media sosial dan internet. Dimulai dengan rapat terbatas ihwal antisipasi dan  perkembangan media. Jokowi memerintahkan jajarannya untuk melawan maraknya kabar sesat yang kian tak terkendali. Sejumlah lembaga dan instansi bergerak memerangi dusta digital, antara lain dengan membentuk Badan Siber Nasional, kata Roy.
Dikatakannya, Menteri Komunikasi dan Informasi juga harus semakin rajin untuk memantau media-media yang dianggap abal-abal dan yang cuma mencari sensasi. Polisi terus mengimbau, bahkan dengan tegas harus menangkap pihak yang menebarkan hoax yang bertujuan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa, sehingga sebaran hoax dan informasi sesat yang selama ini sudah menggurita dapat reda dengan tuntas.
Roy juga mengatakan, bahwa apa yang disampaikan Presiden Jokowi yang selama ini telah menegaskan bahwa masalah yang dihadapi pemerintah saat ini adalah soal penyebaran hoax yang sangat merugikan bagi persatuan dan kesatuan serta keutuhan bangsa.
"Memang tidak mudah untuk melawan hoax. Perlu strategi jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek antara lain dengan penegakan hukum kepada para pembuat dan penyebar hoax. Selain itu, melibatkan penyelenggara platform untuk melawan hoax," kata Roy.
Pemerintah, perlu memberlakukan denda bagi penyelenggara media sosial yang tidak melakukan langkah yang cukup untuk meredam informasi yang tidak benar. Apalagi berkaitan dengan Pemilu yang dapat mencederai hasilnya kelak. 
Menurut Roy, edukasi juga sangat perlu kepada masyarakat untuk melapor bila menemukan hoax dan pelakunya dan langkah ini tentu dengan meminta Presiden memimpin perang melawan hoax ini."Untuk jangka panjang tiada cara lain adalah literasi masyarakat mengenai informasi, media dan media sosial," kata Roy Fachraby Ginting. (Dame)

TerPopuler